Duck Sandwich





Duck Sandwich

Nikmati Bebek dengan Cara Baru, Praktis dan Mudah

Aprillia Sarah Nurul Azizah, Ardias Aji Rizkinanda, Inayatul Husna

Abstrak

Konsumsi fast food meningkat, namun inovasi berbasis daging bebek masih jarang. Penelitian ini bertujuan menghadirkan Duck Sandwich sebagai makanan cepat saji yang praktis, sehat, dan bernilai ekonomi. Sasaran utamanya adalah masyarakat usia 15–25 tahun, khususnya mahasiswa, dengan menawarkan sandwich inovatif berbahan dasar daging bebek yang menggugah selera dan bergizi. Metode yang digunakan meliputi survei pasar dengan Google Trends, analisis SWOT, perencanaan bisnis, analisis pesaing, serta perhitungan kelayakan usaha melalui cost-plus pricing. Kuesioner disebar ke 30 responden untuk menguji validitas dan reliabilitas. Strategi promosi dilakukan secara daring (Instagram, TikTok, WhatsApp) dan luring (bazar, Car Free Day). Produk Duck Sandwich terdiri dari varian Original, Cheese, dan Spesial, mendapat tanggapan positif dari mayoritas responden. Usia konsumen dominan 15–25 tahun dan tinggal di Semarang. Promosi digital efektif meningkatkan awareness. Secara finansial, bisnis mencapai titik impas dalam delapan bulan, dengan NPV positif sebesar Rp 4.993.914, menunjukkan potensi usaha yang menguntungkan. Inovasi Duck Sandwich membuktikan bahwa produk berbahan daging bebek mampu bersaing di pasar fast food. Konsepnya praktis, sehat, dan menarik. Disarankan untuk terus melakukan inovasi produk, memperluas distribusi, dan memperkuat promosi digital agar menjangkau konsumen lebih luas serta menjaga keberlanjutan dan daya saing bisnis di industri kuliner.

 

Kata Kunci:

Duck Sandwich, inovasi kuliner, daging bebek, kewirausahaan mahasiswa, cost-plus pricing, payback period, marketing mix. 


BAB I 

PENDAHULUAN

Perkembangan gaya hidup masyarakat modern mendorong meningkatnya konsumsi makanan cepat saji (fast food) sebagai pilihan praktis di tengah aktivitas yang padat. Fast food tidak hanya dipilih karena kecepatan penyajian, tetapi juga telah menjadi bagian dari budaya dan identitas kehidupan sehari-hari. Di Indonesia, tren ini terus berkembang seiring dengan meningkatnya jumlah gerai fast food dan perubahan pola konsumsi masyarakat, khususnya di kalangan generasi muda.

Meningkatnya konsumsi fast food juga memunculkan perhatian terhadap dampak kesehatan. Kesadaran konsumen mulai bergeser ke arah makanan yang tidak hanya praktis dan lezat, tetapi juga memiliki nilai gizi yang lebih baik. Hal ini membuka peluang bagi pelaku usaha untuk menghadirkan inovasi produk fast food yang lebih sehat dan berkualitas. Salah satu alternatif yang memiliki potensi besar adalah produk sandwich, yang mulai dipandang sebagai makanan cepat saji yang lebih fleksibel dan dapat dikombinasikan dengan bahan bergizi.

Berdasarkan hasil analisis Google Trends, sandwich memang belum sepopuler burger dan kebab, namun menunjukkan tren pencarian yang stabil. Kondisi ini menandakan bahwa pasar sandwich masih terbuka luas dan memiliki peluang untuk dikembangkan. Agar mampu bersaing, sandwich perlu memiliki nilai tambah melalui inovasi bahan isian yang unik, bercita rasa kuat, serta sesuai dengan selera masyarakat lokal.

Duck Sandwich hadir sebagai bentuk inovasi dengan mengusung daging bebek sebagai bahan utama patty. Hasil analisis tren menunjukkan bahwa daging bebek memiliki tingkat minat yang lebih tinggi dibandingkan daging kelinci dan daging angsa. Daging bebek dinilai memiliki rasa yang gurih, tekstur yang baik, serta potensi besar sebagai bahan inovasi kuliner. Hal ini menjadi dasar pemilihan daging bebek sebagai ciri khas produk Duck Sandwich.

Usaha Duck Sandwich dikembangkan melalui mata kuliah Kewirausahaan dan berhasil memperoleh pendanaan dari Program Mahasiswa Wirausaha (PMW). Pengembangan usaha dilakukan melalui riset pasar, partisipasi bazar, serta inovasi produk. Hasil survei menunjukkan bahwa konsumen tertarik terhadap penambahan variasi rasa dan varian patty ayam sebagai pelengkap produk, sehingga Duck Sandwich menghadirkan pilihan patty bebek dan patty ayam untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

Target pasar Duck Sandwich adalah konsumen usia 15–25 tahun, khususnya mahasiswa, yang memiliki gaya hidup praktis dan cenderung mengikuti tren makanan. Dengan strategi produk, harga, distribusi, promosi, dan metode pembayaran yang sesuai dengan karakteristik konsumen, Duck Sandwich diharapkan mampu berkembang sebagai usaha makanan cepat saji yang inovatif, praktis, dan bernilai gizi. Penyusunan tugas akhir ini menjadi langkah strategis dalam mengembangkan ide usaha berbasis kewirausahaan serta mendukung pemberdayaan ekonomi lokal.


BAB III

METODE PENDEKATAN

Bab ini menjelaskan metode pendekatan yang digunakan dalam pengelolaan usaha Duck Sandwich, yang meliputi manajemen pemasaran, manajemen operasional, manajemen sumber daya manusia, dan manajemen keuangan. Pendekatan ini diterapkan untuk mendukung efektivitas operasional usaha serta memastikan keberlanjutan bisnis yang dijalankan.

3.1 Manajemen Pemasaran

Manajemen pemasaran Duck Sandwich dilakukan melalui penerapan strategi bauran pemasaran 4P, yaitu produk, harga, promosi, dan tempat. Produk yang ditawarkan berupa sandwich dengan dua jenis patty, yaitu patty daging bebek sebagai produk utama dan patty daging ayam sebagai produk alternatif. Masing-masing produk tersedia dalam tiga varian, yaitu Original, Cheese, dan Spesial. Strategi harga menggunakan metode cost-plus pricing dengan kisaran harga Rp13.000 hingga Rp25.000 per porsi, yang disesuaikan dengan biaya produksi dan daya beli target pasar. Promosi dilakukan melalui media sosial seperti Instagram, TikTok, dan WhatsApp, serta melalui kegiatan offline berupa bazar, Car Free Day (CFD), sponsorship acara kampus, dan sistem open pre-order. Distribusi produk dilakukan secara langsung kepada konsumen melalui penjualan online dan offline tanpa perantara.

3.2 Manajemen Operasional

Manajemen operasional mencakup pengelolaan kegiatan produksi secara menyeluruh, mulai dari pengadaan bahan baku, proses produksi, penyimpanan, hingga pengemasan produk. Patty daging bebek dan ayam diproduksi secara berkala sesuai kebutuhan dan disimpan dalam freezer untuk menjaga kualitas dan daya simpan. Seluruh proses operasional dilakukan dengan memperhatikan kebersihan dan kerapian guna memastikan produk diterima konsumen dalam kondisi terbaik.

3.3 Manajemen Sumber Daya Manusia

Manajemen sumber daya manusia diterapkan melalui pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas kepada setiap anggota tim. Duck Sandwich dikelola oleh tiga orang dengan peran utama pada bidang operasional produksi, pemasaran, serta manajemen dan keuangan. Pembagian peran ini bertujuan untuk meningkatkan efektivitas kerja tim, memperlancar koordinasi, serta mendukung kelancaran kegiatan usaha.

3.4 Manajemen Keuangan

Manajemen keuangan Duck Sandwich meliputi perencanaan modal, pencatatan arus kas, serta evaluasi keuangan secara berkala. Modal awal usaha berasal dari dana Program Mahasiswa Wirausaha (PMW) dan iuran pribadi anggota tim. Pengelolaan keuangan dilakukan dengan pencatatan terstruktur menggunakan Microsoft Excel, penetapan harga berbasis biaya produksi, serta analisis kelayakan usaha. Metode pembayaran yang disediakan meliputi pembayaran tunai dan non-tunai seperti QRIS dan transfer bank.



BAB IV

GAMBARAN UMUM USAHA

Bab IV menjelaskan gambaran umum usaha Duck Sandwich yang meliputi profil usaha, sumber daya yang digunakan, agenda kegiatan usaha, pelaksanaan, evaluasi, hingga pengembangan usaha. Bab ini bertujuan memberikan pemahaman menyeluruh mengenai kondisi dan operasional usaha Duck Sandwich sebagai bisnis makanan cepat saji berbasis inovasi.

4.1 Profil Usaha Duck Sandwich

Duck Sandwich merupakan usaha kuliner di bidang makanan cepat saji yang didirikan pada Mei 2024 oleh tiga mahasiswa Politeknik Negeri Semarang. Usaha ini berlokasi di Perum Jangli Permai, Tembalang, Semarang. Duck Sandwich mengusung konsep sandwich dengan inovasi utama berupa penggunaan patty daging bebek sebagai ciri khas, serta menyediakan alternatif patty ayam. Visi Duck Sandwich adalah menyajikan sandwich berbahan dasar daging bebek dan ayam sebagai solusi makanan cepat saji yang praktis dan bergizi bagi generasi muda, khususnya mahasiswa. Misi usaha difokuskan pada pengembangan inovasi produk, pemasaran digital, serta pemberdayaan ekonomi kreatif mahasiswa.

Sejarah berdirinya Duck Sandwich berawal dari tugas mata kuliah Kewirausahaan yang kemudian berkembang setelah memperoleh pendanaan Program Mahasiswa Wirausaha (PMW). Identitas brand Duck Sandwich menggunakan nama “SAH” yang merupakan singkatan dari nama pendiri serta memiliki makna kepercayaan dan keabsahan produk. Tagline “Nikmati Bebek dengan Cara Baru, Praktis dan Mudah” mencerminkan positioning produk sebagai makanan inovatif yang berbeda dari sandwich pada umumnya.

Produk Duck Sandwich terdiri dari dua kategori utama, yaitu Duck Sandwich dan Chicken Sandwich. Masing-masing kategori memiliki varian Original, Cheese, dan Special dengan kombinasi roti, sayuran segar, saus, serta patty yang diolah secara mandiri untuk menjaga kualitas dan cita rasa.

4.2 Sumber Daya yang Dibutuhkan

Sumber daya pemasaran difokuskan pada penggunaan kemasan yang berfungsi sebagai pelindung produk sekaligus media promosi visual. Kemasan dirancang menarik dan informatif untuk memperkuat citra merek.
Sumber daya operasional mencakup bahan baku utama, kemasan, serta peralatan produksi yang digunakan dalam proses pengolahan dan penjualan. Seluruh kegiatan operasional mengikuti Standar Operasional Prosedur (SOP) untuk menjaga kualitas, kebersihan, dan konsistensi produk.
Sumber daya manusia terdiri dari tiga orang dengan pembagian tugas yang jelas pada bidang manajemen dan keuangan, pemasaran, serta produksi.
Sumber daya keuangan berasal dari dana hibah Program Mahasiswa Wirausaha (PMW) dan iuran internal tim dengan total modal awal sebesar Rp3.600.000 yang digunakan untuk mendukung seluruh kebutuhan usaha.

4.3 Agenda dan Pelaksanaan Kegiatan Usaha

Agenda kegiatan Duck Sandwich meliputi tahap persiapan, perencanaan dan pengumpulan dana, penentuan konsep usaha, penetapan lokasi, penyusunan menu, survei pemasok dan pesaing, serta penentuan harga jual. Model bisnis yang diterapkan mencakup sistem open pre-order dan penjualan langsung melalui bazar serta Car Free Day (CFD).

Pelaksanaan usaha dijalankan melalui penerapan manajemen pemasaran, operasional, sumber daya manusia, dan keuangan. Strategi pemasaran menggunakan konsep bauran pemasaran (produk, harga, promosi, dan tempat) dengan fokus pada promosi digital dan penjualan langsung. Manajemen operasional dilakukan secara terencana melalui sistem produksi berbasis pre-order dan pengendalian kualitas produk. Manajemen keuangan dikelola dengan pencatatan terstruktur dan metode penetapan harga cost-plus pricing.

4.4 Evaluasi dan Pengembangan Usaha

Evaluasi usaha dilakukan secara rutin melalui evaluasi mingguan dan bulanan yang mencakup penjualan, kualitas produk, respons konsumen, serta efektivitas promosi. Hasil evaluasi menjadi dasar dalam pengambilan keputusan pengembangan usaha.
Pengembangan usaha Duck Sandwich dilakukan melalui inovasi produk, penambahan varian menu, perluasan penjualan offline, serta pengembangan kemasan berdasarkan hasil survei konsumen. Strategi ini bertujuan meningkatkan daya tarik produk, memperkuat identitas merek, dan memperluas jangkauan pasar.

4.5 Penyusunan Laporan

Penyusunan laporan dilakukan sebagai bentuk pertanggungjawaban atas seluruh kegiatan usaha yang telah dilaksanakan. Laporan disusun secara berkala dan mencakup perencanaan, pelaksanaan operasional, pemasaran, hasil penjualan, analisis keuangan, serta evaluasi usaha sebagai dasar pengambilan keputusan selanjutnya.


DOKUMENTASI

LOGO



PRODUK


STRUKTUR ORGANISASI


BMC


PROMOTION







PENJUALAN






DAFTAR PUSTAKA

Ringkasan ini disusun dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) berdasarkan naskah

Tugas Akhir asli
. Seluruh isi ringkasan mengacu pada data, analisis, dan pembahasan yang terdapat dalam Tugas Akhir. Dalam proses penyusunan dan penulisan, penulis masih memerlukan bimbingan serta masukan dari dosen pembimbing dan rekan-rekan terkait.

PENULIS

Aprillia Sarah Nurul Azizah

NIM: 3.52.22.2.04

 

Ardias Aji Rizkinanda

NIM: 3.52.22.2.05

 

Inayatul Husna

NIM: 3.52.22.2.12

 

DOSEN PEMBIMBING

Pembimbing I

Andi Setiawan, S.E., M.M.

NIP. 197607202008011011

 

Pembimbing II

Destine Fajar Wiedayanti, S.T., M.M.

NIP. 199312102022032019